Kisah Membangun Meatime, Bisnis Steak Kaki Lima yang Beromset Rp90 juta/Bulan

Sahabatukm.com – Namanya Meatime. Warung tenda tapi jualannya steak daging import. Kerenkan??

Pemiliknya adalah Herry Laksono. Hobinya masak steak plus makan steak. Ini yang mendorongnya membuka bisnis Meatime.
Menjual steak berkelas tapi harga terjangkau.

Maklum, jika bicara steak yang terlintas pasti restoran mewah dan harganya yang mahal.

Berlokasi di Tangerang, Banten, Meatime menjajakan steak ala kaki lima tapi dengan rasa yang diklaim tak kalah berkualitas dibandingkan steak-steak mewah.

Harry Laksono adalah sang pemilik gerai steak tenda tersebut. Dia mendirikan usahanya pada 2019, sebelum Indonesia dilanda pandemi virus Corona (COVID-19).

“Awalnya dari hobi makan steak, terus habis itu melihat kok ini steaknya dari pricing point nggak ada yang sesuai sama dompet saya waktu itu, karena mau makan yang kualitasnya sesuai dengan saya itu nggak ada yang sesuai sama dompet. Kalau menyesuaikan dengan dompet saya itu saya akan dapat kualitas yang nggak sesuai,” kata dia kepada detikcom belum lama ini.

Kemudian dia mengetahui bahwa sebetulnya ada biaya-biaya yang bisa ditekan untuk membuat harga steak enak lebih ekonomis. Mulai dia mendirikan gerai dengan modal Rp 100 juta.

“Itu yang mahal bahan baku sebenarnya dibanding dengan yang lain karena kita kan semua jenis daging kita impor, dan kalau kita mau ambil barang langsung dari tangan pertama kita harus ada kuota yang harus kita penuhi,” tuturnya.

Dia mengungkapkan kelebihan steak yang dia jual ada di rasa dan tekstur yang lembut. Untuk menu steak daging dijual di kisaran Rp 60 ribuan sampai yang paling mahal sekitar Rp 130 ribu.

“Tapi best seller kita itu yang range harga sekitar Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu,” sebutnya.

“Sebenarnya ada yang Rp 40 ribuan tapi chicken bukan daging. Ada varian ayamnya juga kita di Rp 40 ribuan,” sambung Harry.

Dia pun berencana untuk membuka cabang di beberapa tempat lainnya. Saat ini dia mampu meraih omzet Rp 90 juta per bulan di tengah pandemi virus Corona, walaupun bisnisnya sempat terpukul di awal-awal pandemi.

“Kalau sekarang sih karena sekarang lagi turun lagi, karena pandeminya lagi meningkat sih itu sekitar di Rp 3 jutaan per hari, Rp 90 jutaan ya per bulan omzetnya,” tambahnya. ***