Gaduh Dewa Kipas vs Percasi, Nasib Pengrajin Papan Catur Apakabar?

Sahabatukm.com — Catur permainan tertua di dunia kini kembali digandrungi usai perdebatan Dewa Kipas dan para GM Catur Indonesia serta Percasi (Persatuan Catur Indonesia).

Dewa kipas kini viral usai menang melawan pecatur dunia.

Nama dewa kipas pun jadi kontroversi karena dianggap curang.

Dewa kipas adalah nama samaran dari Dadang pecatur berusia senja yang masih hobi bermain catur.

Lantas Apakabar para pengrajin Papan Catur saat ini di tanah air?

Melansir dari kompascom, seorang pengrajin catur Sugeng Prayitno, asal Pasuruan, mengaku dalam sebulan dapat meraih omzet minimal Rp 30 juta per bulan dari penjualan 400 set permainan catur, yakni papan catur dan bidak, termasuk tas yang diproduksinya.

Ia berkisah kiprahnya sebagai perajin catur dimulai sejak tahun 1970-an. Tepat pada 1976, Sugeng memberanikan untuk membuka usaha catur kayu sendiri di rumahnya.

Semula, modalnya hanya seekor kambing pemberian orangtuanya. Kambing tersebut lantas ia jual seharga Rp 50.000 dan habis untuk membeli kayu sebagai produksi catur perdananya.

“Pertama, modal saya hanya satu ekor kambing, terus saya jual dapat Rp 50.000. Kalau dulu Rp 5.000 itu sudah banyak lho.Terus uangnya habis untuk beli kayu,” tutur Sugeng saat ditemui Kompas.com di Pandaan, Pasuruan.

Seiring waktu berjalan, kesuksesan bisnis catur yang diimpikannya belum juga menghampiri dirinya. Bisnis catur Sugeng pun sempat bangkrut. Ia pun memutuskan kembali mencari pekerjaan lain untuk mendapatkan modal.

Tahun 1980, Sugeng kembali mengadu nasibnya dalam bisnis catur dan memberi nama UD Truno Catur. Sugeng memaparkan, dirinya masih penasaran dan belum cukup puas dengan yang diraihnya saat itu.

“Saya ingin kembali berbisnis. Saya percaya, dengan menekuni usaha mainan catur kayu, kehidupan saya dan keluarga akan lebih terpenuhi. Saya punya niat dan akan kerja lebih keras lagi,” katanya.

Tahun 2002, Sugeng mendapatkan bantuan kredit UKM dari Dinas Koperasi Pusat Surabaya sebesar Rp 75 juta yang dapat diangsur selama dua tahun dengan bunga 5 persen per tahun.

Dengan memanfaatkan pinjaman tersebut, usaha Sugeng semakin berkembang. UD Truno Catur kini memiliki tujuh orang pekerja dengan produksi rata-rata 400 set catur per bulannya. Sugeng menjual catur ke tengkulak seharga Rp 75.000 per set, sedangkan jika ia jual sendiri, ia membuka harga Rp 100.000 pet set. Dalam satu bulan, omzet yang ia dapatkan mencapai lebih dari Rp 30 juta.

Dalam menjalankan usahanya, ia selalu mengutamakan mutu dan pelayanan. Buah catur kreasinya terbuat dari kayu mentaos dan sonokeling.

Kreasi buah catur buatan Sugeng dibuat dengan menggunakan alat bubut. Catur kreasinya dibuat dan dipoles dengan sangat rapih dan futuristik. Untuk menarik perhatian pembeli, ia juga melengkapi catur produksinya dengan tas yang mampu memuat papan catur sekaligus bidaknya.

Sugeng mengakui, nasib industri mainan kayu yang ia geluti saat ini bagaikan telur di ujung tanduk, tidak mampu bertahan lebih lama lagi.

Alasannya, bukan karena krisis, melainkan sulitnya mendapatkan bahan baku dan semakin sedikitnya perajin buah catur.

“Sekarang mendapat bahan baku kayu susah sekali dan menghambat permintaan produksi yang tinggi dan dituntut tepat waktu. Ditambah lagi, semakin sedikitnya tenaga kerja yang mau terlibat dalam bisnis mainan kayu ini,” ujarnya.

Menurutnya, bahan kayu yang didapatnya dari daerah Singosari dan Tumpang, Malang kerap sulit didapatnya. Kata Sugeng, sedikitnya jumlah tenaga kerja yang mau terlibat dalam bisnis mainan catur tersebut, akhirnya tidak mampu memenuhi permintaan produksi dari pabrik yang ingin membeli dari UD Truno Catur.

Padahal, banyak permintaan yang mengalir dari luar Jawa, bahkan luar negeri, untuk membeli catur buatannya.

“Saya tidak berani, wong untuk produksi lokal saja sudah tak mampu, apalagi keluar,” papar Ayah enam anak yang memasarkan caturnya hingga ke Surabaya, Semarang, dan Malang ini.

Namun, meski belum berani memasarkan produk ke luar Jawa, Sugeng rajin ikut pameran untuk mempromosikan produknya. Ia mengatakan, dirinya tidak akan gentar memproduksi mainan catur karena saat ini dirinya merupakan pemain tunggal dalam bisnis catur di daerah Pasuruan. “Banyak teman-teman pengusaha yang sudah mundur dari pertaruhan bisnis ini. Ini peluang bagi saya,” ujarnya.

Mendatang, Sugeng bertekad untuk mengembangkan usahanya dengan membuat showroom khusus mainan catur agar orang lebih tertarik untuk mampir. ***