Unik! Bisnis Menggiurkan ‘Tukang Dandan’ Action Figure

Sahabatukm.com – Hobi utak-atik action figure ternyata bisa menjadi bisnis menggiurkan. Peluang ini tak disia-siakan Katon Setiawan untuk meraup cuan sebagai customizer alias ‘tukang dandan’ action figure.

Katon menerima jasa painting atau cat ulang action figure, membuat aksesoris atau perlengkapan yang dibutuhkan oleh mainan tersebut hingga diorama atau sebuah maket 3D yang akan mempercantik tampilan dari action figure tersebut.

Katon menceritakan awal mula menekuni usaha jasa modifikasi action figure berawal dari rasa kurang puasnya terhadap tampilan mainan yang berasal dari pabrik. Dirinya merupakan salah satu penghobi dan tergabung dalam salah satu komunitas action figure di tanah air.

“Karena kurang puas, beberapa part kurang maksimal kalau dari pabrikan. Terus coba-coba repaint, bentuknya yang kurang pas terus dibikin, dan jalan sampai sekarang,” kata Katon kepada detikcom, Minggu (21/2/2021).

Dia mulai menekuni usaha jasa ini sejak 2015. Awalnya dia tidak pernah terpikir bahwa aksi mengutak atik action figure yang dimilikinya ini bakal diminati oleh banyak orang.

Dia menceritakan, setiap kali memodifikasi action figure yang dimilikinya selalu dibagikan ke grup komunitas yang diikutinya, bahkan dirinya juga selalu posting di akun media sosial pribadinya.

“Dari situ teman-teman dekat saya mulai meminatinya, dan tidak terasa pada tahun 2018-2019 orang umum dan dari luar pun banyak yang minat,” katanya.

Karena banyak yang minat, akhirnya Katon memutuskan untuk mengomersilkan jasa ‘dandan’ action figure.

Dia menerima jasa cat ulang atau repaint, membuatkan aksesoris tambahan, hingga diorama. Dia pun menerima orderan sesuai dengan permintaan konsumen.

Dari hasil usahanya, kini Katon mampu mengantongi penghasilan minimal Rp 6 juta per bulan. Penghasilan tersebut sudah bersih setelah dipotong biaya produksi dan membayar beberapa pegawai yang ikut membantunya.

Angka penghasilan itu pun cukup besar jika dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan. Modal yang dikeluarkan pada awal meniti karir sebagai tukang modifikasi adalah untuk membeli cat, kuas, lem, hingga perlengkapan airbrush.

“Untuk tarif spesifikasinya tidak ada, cuma tarif paling bawah di angka Rp 400 ribu, paling mahal pernah tembus Rp 25 juta itu bikin diorama, seperti ruangan versi kecil, ya seperti maket,” ujarnya.

Katon mengatakan, saat ini masih memasarkan jasa modifikasi action figure di media sosial seperti Facebook dan Instagram. Khusus Instagram, dia selalu mengunggah hasil karyanya di akun @katonterlihat.

Dia menceritakan, salah satu kunci keberhasilan usaha jasa modifikasi yang dijalani ini adalah terdapat pada caption yang dilengkapi dengan hashtag. Menurut dia, hashtag bisa menjangkau konsumen hingga luar negeri.

Upaya tersebut pun membuahkan hasil, saat ini dia mengaku konsumen terbanyak berasal dari luar negeri.

“Jerman tembus, Prancis, terus Thailand, lalu ada satu negara dekat Arab saya lupa namanya. Kalau dalam negeri, standar seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta,” ujarnya.

Mengenai proses pengerjaan, Katon mengungkapkan disesuaikan dari proses pengerjaannya. Proses utak-atik akan lebih cepat jika hanya mengerjakan cat ulang, namun bisa memakan waktu lama hingga bulanan jika mengerjakan paketan lengkap beserta diorama.

Meski lama, Katon mengatakan para konsumen menerima dan sudah mengerti proses utak-atik action figure memang membutuhkan waktu yang lama.

“Paling lama itu bisa sampai sebulan, itu yang untuk diorama. Sama misalnya produksi jumlah banyak itu bisa memakan waktu satu sampai tiga bulan,” jelasnya.

Menurut Katon, usaha jasa modifikasi action figure ini akan terus berkembang seiring dengan jumlah masyarakat yang semakin banyak menggemari mainan. Hanya saja, dirinya berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap industri kreatif salah satunya dengan menggelar pameran mainan atau toys fair.

“Karena peluangnya itu besar banget dan pelakunya pun sudah banyak, industrinya hidup banget. Tapi perlu bantuan karena sekarang kan tidak ada toys fair, jadi tidak ada wadahnya,” katanya.

“Pameran itu sangat mempengaruhi tidak hanya soal penjualan, tapi juga branding,” sambungnya. ***