Indahnya Kampung Bunga Matahari Ciranjang, Kamu Wajib Mengunjunginya

SAHABATUKM.COM —  WARNA kuning di sepanjang Jalan Kampung Bungbulang Desa Nanggalamekar Kecamatan Ciranjang, membuat siapa saja yang melihat akan sejenak tertegun. Berjejer menghiasi pinggiran jalan dengan lebar kurang lebih dua meter dan panjang 300 meter. Ya, Kampung Bunga Matahari. Sebutan itulah pertama kali disematkan.

Bukan ratusan. Bahkan ribuan bunga dengan ciri khas warna kuning ini tumbuh. Kurang lebih 3.500 bunga dari bibit lokal dan luar menghiasi jalan kampung ini. Wisatawan akan disuguhkan pemandangan bunga matahari saat akan memasuki jalan kampung.

Di sepanjang jalan, 1.500 bunga matahari dari bibit lokal terhampar. Sementara 2.000 bunga dari bibit luar negeri seperti Cina, Jepang dan Amerika akan ditemui di lingkungan perkampungan dengan warna berbeda.

Di balik keindahan tersebut merupakan konsep yang diciptakan oleh anak muda lulusan S1 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Asep Miftahul Falah. Masih belia, di usia 26 tahun mampu menghidupkan kampungnya menjadi desa wisata.

Titik awal konsep tersebut lahir di tahun 2017 dengan niatan membuat desa wisata. Akan tetapi, mimpinya tersebut tertunda karena ia harus melanjutkan pendidikan S2 di Negeri Tirai Bambu, Cina di Guangxi Normal University.

Hingga pada bulan September 2020, kerangka mimpi itu perlahan mulai dibangun. Ternyata, ketua Rw dan Rt setempat mendukung untuk mewujudkannya. Swadaya dari masyarakat bahu membahu saling bergotong royong. Kurang lebih Rp6 juta terkumpul untuk membeli bibit tangkai bunga matahari.

“Awal mimpi atau konsep saya di tahun 2017, tapi karena harus meneruskan pendidikan di Cina, saya tunda dulu. Barulah di bulan September 2020 memulai bersama masyarakat yang alhamdulillah didukung,” ujar sang inisiator.

Tak mudah memang. Jatuh bangun terus ia geluti. Berbagai refrensi dipelajari. Perbedaan iklim yang sedikit menyulitkan tumbuhnya bibit tangkai bunga matahari dari berbagai negara. Perlu perawatan khusus. Bahkan, dirinya pernah menanam 1.500 bibit tangkai bunga matahari luar negeri namun hanya dua yang berhasil.

Sementara bibit tangkai lokal tidak terlalu sulit. Ada perbedaan sedikit mencolok antara bibit lokal dan luar. Bibit lokal lama untuk mekar, namun jangka waktu pemekaran bisa sampai dua bulan. Di sisi lain, bibit luar cepat mekar namun hanya dalam jangka waktu dua minggu saja bertahan.

Mimpinya tidak terhenti bahkan puas sampai disini saja. Kedepannya, dirinya merencanakan akan membuat taman labirin dan taman tematik bunga matahari dengan luas lahan kurang lebih satu hektar.

“Insya allah akan dibuat taman labirin dan tematik bunga matahari dengan luas lahan kurang lebih satu hektar,” paparnya.

Datang untuk berswafoto tak masalah. Wisatawan tidak akan dipungut biaya sepeser pun. Hanya uang kebersihan yang diberikan seikhlasnya untuk perawatan serta menjaga lingkungan tetap bersih.

Hadirnya Kampung Bunga Matahari menarik masyarakat Kabupaten Cianjur. Dalam sehari, tak kurang 200 orang melakukan kunjungan. Tapi tetap dibatasi untuk menjaga jarak. Di akhir pekan naik sekitar 50 persen atau 500 orang. Namun jangan lupa, setiap pengunjung diwajibkan menggunakan masker dan mencuci tangan sebelum memasuki wilayah ini.

Selain masyarakat dan perangkat Rt serta Rw. Pemerintah Desa (Pemdes) Nanggalamekar menjadi bagian pendukung terciptanya desa wisata tersebut

“Selain anak tersebut, inisiatif dari warga u tuk menjadikan kampung tersebut sebagai destinasi wisata membuat mereka bergotong royong untuk mewujudkannya,” ujar Kepala Desa Nanggalamekar, Hilman.

Pihaknya pun akan menata kampung di bawah kepemimpinannya agar lebih menarik lagi.

“Kita juga sedang menyiapkan kurang lebih 20 jenis bunga matahari yang dengan warna yang berbeda-beda. Tak hanya itu kita juga akan menata kampung ini dengan lukisan hingga jadi wisata kampung mural,” ungkapnya. (*)