Kisah Jatuh Bangun Djoko Susanto, Tokoh Kunci Suksesnya Alfamart dan Alfamidi

Djoko Susanto

sahabatukm.com – Nama Djoko Susanto barangkali terdengar asing bagi sebagian orang, namun tidak dengan bisnisnya. Djoko menjadi sosok kunci di balik suksesnya toko swalayan Alfamart dan Alfamidi.

Berdasarkan data dari Forbes, total kekayaan Djoko Susanto mencapai 1,4 miliar dolar atau sekitar 20 triliun rupiah. Jumlah tersebut menempatkan Djoko sebagai peringkat ke-20 daftar orang terkaya di Indonesia dan peringkat ke-1730 orang terkaya di dunia.

Berkat kita punya ketekunan akhirnya kita bisa bangkit kembali dan bangkit dalam waktu yang relatif singkat.

Supermarket yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari itu kini telah membuka lebih dari 15.000 gerai yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia.

Tak hanya itu, dengan total 132.000 karyawan, Alfamart juga telah bermitra dengan lebih dari 6000 pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Tanah Air.

Lahir dengan nama Kwok Kwie Fo, pria lulusan sekolah dasar ini sudah memperlihatkan minat bisnisnya sejak usia 17 tahun dengan melanjutkan usaha keluarganya menjaga kios swalayan di Pasar Arjuna, Jakarta.

Namun, pada 1976, insiden kebakaran yang terjadi di Pasar Arjuna melahap habis kios Djoko dan melenyapkan sekitar 80-90 persen modal usahanya.

Meneruskan hasil wawancara Narasi TV dengan Djoko yang diunggah melalui Youtube pada Kamis, 3 Januari 2020, peristiwa kebakaran itu justru menjadi titik balik Djoko dalam berbisnis. Dia pun kembali bangkit dan memulai usahanya dari awal.

Alfamart, jaringan mini market yang bernanung di bawah perusahaan PT. Sumber Alfaria Trijaya merupakan salah satu usaha yang tumbuh dengan sangat pesat.

“Berkat kita punya ketekunan akhirnya kita bisa bangkit kembali dan bangkit dalam waktu yang relatif singkat,” ujar Djoko.

Di tengah-tengah perjuangannya membangun kembali kios swalayan, pada 1980, Djoko bertemu dengan salah satu pengusaha rokok nomor satu di Indonesia, Putera Sampoerna. Sejak saat itu, Keduanya sepakat untuk bermitra.

“Saya cuma ditanya ‘mau tidak bergabung dengan saya (Putera Sampoerna)’? jawaban saya cuma butuh 5 menit, siap!,” kata Djoko.

Lima tahun kemudian, bersama Sampoerna, Djoko sukses mendirikan sebanyak 15 kios rokok dan membuat rokok Sampoerna menjadi salah satu merek rokok terlaris dan bersanding dengan merek-merek rokok lainnya, seperti Gudang Garam.

Sukses dengan bisnis rokoknya, bersama Putera Sampoerna, Djoko mulai melebarkan sayap usahanya dengan mendirikan supermarket yang diberi nama Alfa Toko Gudang Rabat. Pada 1994, nama tersebut disederhanakan menjadi Alfa Minimart.

Pada 2005, Putera Sampoerna memutuskan menjual perusahaannya kepada Philip Morris International, termasuk 70% persen saham Alfa Minimart. Keputusan tersebut merupakan akhir kerjasama Djoko dan Sampoerna.

Namun, keberuntungan berpihak pada Djoko. Saat itu, pihak Philip Morris International tak tertarik dengan saham Alfa Minimart dan menjual saham itu kepada Djoko dan investor bernama Northstar.

Bisnis supermarket Djoko berkembang pesat, hingga pada 2013, Djoko membeli Saham Northstar. Dan menjadi pemilik utama Alfa Minimarket.

Djoko kemudian bermanuver dan membangun PT. Sumber Alfaria Trijaya dengan bisnis utamanya, Alfamart dan Alfamidi.

Perlahan, supermarket yang didirikan Djoko kian digandrungi masyarakat. Bahkan, pada 2012, Alfamart memperoleh penghargaan Top Brand dari lembaga riset Frontier Consulting Group. Tak hanya itu, Alfamart juga pernah menyabet penghargaan sebagai minimarket terbaik dalam ajang Indonesia Best Brand Award.(tagar.id)