Bunda Elis, Dulu Terlilit Utang Kini Sukses Ekspor Kripik Singkong ke 5 Negara

sahabatukm.com – Seorang perempuan paruh baya, Bunda Elis panggilannya, membuktikan bahwa siapa saja bisa menjadi pelaku usaha.

Perlahan tapi pasti, bisnis Bunda Elis dalam bidang jualan kripik singkong kini sudah terbilang sukses.

Bagaimana tidak, bisnis kripik singkong Bunda Elis ternyata sudah dijual ke penjuru Indonesia serta negara-negara lain seperti Korea Selatan, Australia, Kanada, Amerika Serikat, hingga Republik Dominika.

Bahkan, Bunda Elis memenangkan beberapa penghargaan dalam negeri, seperti Citi Microentrepreneurship Awards (CMA) 2018-2019 kategori kuliner dan juara II Wirausaha Muda Pemula (WMP) 2019 kategori kuliner dari Kemenpora.

Tentu saja, semua itu tak didapatkan dengan jalan yang mudah.

Dalam membangun bisnis bertajuk kripik singkong Krispy Yummy Babeh, Bunda Elis menemukan banyak rintangan, mulai dari terlilit utang hingga menderita sakit parah.

Cerita kesuksesan itu dimulai saat Bunda Elis mengikuti pelatihan gratis bertajuk Go Digital and Scale-Up with WhatsApp, yaitu sebuah pelatihan gratis yang diadakan di 12 kota di Indonesia yang diadakan oleh WhatsApp -platform messaging milik Facebook- dan UKM Indonesia.

Pelatihan ini membekali Bunda Elis dan ratusan wirausaha lainnya dengan keterampilan digital, termasuk cara memanfaatkan aplikasi WhatsApp Business.

Saat mengikuti pelatihan itu, Bunda Elis bahkan sampai berjalan ke tepi jalan utama di desanya, di daerah Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat, dan duduk berjam-jam di sana.

Itu dilakukan karena hanya di sana tempat di mana Bunda Elis bisa mendapatkan koneksi internet yang stabil untuk mengikuti pelatihan bisnis daring melalui ponselnya tanpa gangguan jaringan.

Bunda Elis sendiri telah lama menjadi pengguna setia WhatsApp. Aplikasi ini pula yang telah membantunya mengembangkan bisnis keripik singkong yang ia rintis.

Bunda Elis memulai usaha keripik singkong Krispy Yummy Babeh pada tahun 2016 ketika bisnis suaminya bangkrut hingga menyebabkan mereka terlilit utang.

Walau hanya tersisa uang sebesar Rp50.000, mereka menolak untuk menyerah, sebaliknya mereka memutuskan untuk membuat keripik singkong dan dijual di toserba terdekat, di SMP putranya, dan melalui WhatsApp pribadi Bunda Elis.

Tak lama kemudian, usahanya terus berkembang dan ia mulai bergabung dengan beberapa asosiasi UMKM, seperti UKM Indonesia, yang mendatangkan kesempatan berpromosi ke khalayak yang lebih luas melalui WhatsApp.

“Bisnis saya tumbuh perlahan tapi pasti. Baru setelah WhatsApp Business diluncurkan pada tahun 2018, semuanya jadi berkembang lebih cepat, dan bisnis saya pun tumbuh tiga kali lipat,” kata Bunda Elis dengan penuh semangat.

Bunda Elis memberikan arahan kepada karyawannya yang terdiri dari ibu rumah tangga dan pelajar SMK. (Foto diambil pada tahun 2019) (Dok. WhatsApp)
Baca Juga: Angka Pengangguran Indonesia Tinggi, Ini Cara Memulai Bisnis di Tengah Pandemi Covid-19

“Saya mulai menerima pesanan dalam jumlah besar dari luar negeri. Dari situ, saya jadi bisa membeli singkong dari 40 petani lokal di daerah saya, serta mempekerjakan 30 ibu rumah tangga dan 10 siswa sekolah kejuruan di desa saya untuk membantu saya memproduksi keripik singkong,” sambungnya.

Usaha Bunda Elis berkembang secara pesat sehingga akhirnya dia berhenti menjual produknya secara eceran.

Ia mulai menjual secara grosir ke 33 pengecer dan enam distributor di penjuru Indonesia serta negara-negara lain seperti Korea Selatan, Australia, Kanada, Amerika Serikat, hingga Republik Dominika.

Seperti yang sudah disinggung di atas, usahanya bahkan membawa Bunda Elis memenangkan beberapa penghargaan dalam negeri, seperti Citi Microentrepreneurship Awards (CMA) 2018-2019 kategori kuliner dan juara II Wirausaha Muda Pemula (WMP) 2019 kategori kuliner dari Kemenpora.

Bunda Elis merasa perkembangan usahanya dapat terwujud berkat adanya kemudahan fitur-fitur yang tersedia di WhatsApp Business.

Namun, kala usahanya tengah berkembang dengan pesat, Bunda Elis terserang stroke hingga menyebabkan gangguan pendengaran dan harus menjalani perawatan ekstensif untuk pulih.

“Untungnya, ketika orang menghubungi saya untuk menanyakan tentang produk saya, saya dapat dengan mudah mengirimkan katalog produk saya di WhatsApp, dan dari situ proses transaksi selanjutnya sering kali terjadi sangat cepat. Saya bisa menjalankan bisnis saya dari genggaman tangan saya, hanya dengan beberapa klik,” jelasnya.

Di situasi seperti ini, pandemi COVID-19 memang memengaruhi bisnisnya secara signifikan.

Dengan menurunnya pesanan, produksi yang biasanya membutuhkan 40 orang kini hanya membutuhkan kurang dari selusin orang.

Walau demikian, Bunda Elis tetap bersemangat. Setelah mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan oleh WhatsApp dan UKM Indonesia, ia belajar cara-cara baru untuk mengembangkan bisnisnya dan memaksimalkan fitur-fitur WhatsApp Business, ia mengaku optimis situasi akan segera kembali seperti sedia kala.

“Saya bisa bertahan hingga saat ini karena pesanan-pesanan yang tetap saya terima dan pertahankan melalui WhatsApp Business. Saya baru-baru ini mempelajari cara menggunakan fitur label dari pelatihan yang saya ikuti, dan fitur itu telah membantu saya menyortir pesanan yang saya terima. Saya bersyukur memiliki kesempatan untuk berbisnis dan dapat saya jalankan dengan mudah. Semuanya cukup dilakukan melalui ponsel saya!” ucapnya. (Nova.id)